Oleh: talijiwo | 19 November 2008

Fenomena Lebaran: Mengalirkan Rindu Sampai Jauh

Fenomena tradisi mudik sangat menarik karena ia mampu menembus batas-batas rasionalitas. Kerinduan pada tanah kelahiran itu semakin dihayati justru semakin asyik.

Ramadhan datang, maka semua orang bergegas menyambutnya. Gema dzikir dan lantunan Quran menyeruak di ruang publik. Di atas mimbar, Pak Ustadz tak bosan-bosannya mengingatkan, Ramadhan adalah saat-saat ampunan dan pahala berlipat ganda, di dalamnya ada malam mulia seribu bulan. Dan, seperti berbalut daya magis, Ramadhan melarutkan manusia dalam kesyahduan ibadah.

Ramadhan pergi, dan detik-detik melepas bulan mulia ini tak kalah uniknya. Berbekal rindu yang membara, semua ingin pulang untuk berziarah ke kampung halaman yang membesarkan kita. Berdesak-desakan kita di jalan. Ada degup lebih kencang melebihi harga sebuah nyawa. Ah, puisi (alm) Sigit Haryoto demikian pasnya:… Kami terbakar oleh pikiran lapar, kami berkelahi di jalan-jalan, berebut kebenaran…

Ada gemuruh dalam batin kita untuk segera menggelar Pesta Raya Bersama, menyambut bahagia. Seakan-akan hidup kita tak berarti, bila kita tak ambil bagian di dalamnya. Ternyata ini tak hanya tradisi. Lebih dari itu, ia telah menjadi identitas kita. Sungguh sehebat-hebatnya kita, kita akan larut dan tersungkur bila telah berada di depan Pintu Lebaran.

Lebaran memang penuh warna dan juga rasa. Itulah sebabnya, orang kota yang tak mau dibilang kampungan toh pulang kampung juga. Mereka rela antre berjam-jam di jalan raya, berdesak-desakan di kereta api, bertumpuk seperti teri di bak-bak truk maupun bus kumuh serta kapal rakyat, atau berkonvoi naik sepeda motor menempuh jarak beratus-ratus kilometer. Sesuatu yang rasanya tak mungkin terjadi kalau tidak karena Lebaran.

Diam-diam kita bisa mencurigai isi pikiran kita. “Aku ingin pulang” sejatinya telah menjadi kesadaran kolektif manusia. Semua kita perlu untuk pulang. Pulang tidak hanya sebatas ke kampung halaman, namun juga pulang dalam makna transendental: bertemu dengan Tuhan.

Pulang memiliki daya getar yang hebat, lebih-lebih pada diri pujangga atau seniman. Tak heran bila penyair Angkatan ’45 Sitor Situmorang getol berkarya dengan tema pulang. Di atas kanvas, pelukis Achmad Sadali sering mengajak kita merenungkan makna pulang dalam konteks spiritualitas. Teguh Karya pun menyempatkan membuat film Pulang. Aha, artis cantik Happy Salma menulis buku kumpulan cerpen dengan judul Pulang.

Pulang memang menjadi kerinduan bersama. Penyair humoris Joko Pinurbo mengatakan: Tiada pengembara yang tak merindukan sebuah rumah, bahkan jika rumahnya hanya ada di balik iklan yang ia baca di perjalanan.

Di rumah ada seorang ibu. Begitu Joko Pinurbo menyimpulkan. Memang setiap
rumah tak bisa dipisahkan dari sosok ibu. Baik dalam arti harfiah maupun filosofis. Karena itu rindu akan rumah adalah rindu akan ibu, suatu entitas tempat kita berasal dan menjadi. Jadi, perjalanan pulang adalah perjalanan ke tempat seperti itu, tempat hati kita senantiasa berada.

Dengan memaknai seperti itu, maka fenomena pulang kampung adalah satu rangkaian penting dalam mengisi kembali jiwa dari “sesuatu yang hilang”. Bukankah orang yang bekerja jauh dari rumah, di kota-kota besar, sering merasakan ada sesuatu yang kurang dalam hidup? Anehnya, hal itu hanya bisa diobati dengan pulang ke kampung halaman. Semua racun atau efek samping dari hidup lama di kota akan sirna seketika.

Mudik merupakan sebuah terapi. Selain membuat semakin eratnya tali persaudaraan kita, dengan mudik spiritualitas kita bisa meningkat. Paling tidak, pulang ke kampung akan menimbulkan semangat baru. Ketika seorang kembali lagi ke kehidupan kotanya ia menjadi penuh energi.

Jadi tak berlebihan bila orang mengatakan bahwa tradisi mulia di lebaran merupakan kekayaan tak ternilai. Sebuah peristiwa yang bermakna silaturahmi menjelma kekuatan dahsyat. Mengobati jiwa-jiwa yang terluka.

Kita semua rindu kampung halaman, pada orang tua, pada kakek-nenek dan sanak famili. Kalau di antara mereka ada yang sudah meninggal, kita merasa kurang afdhol kalau belum ziarah ke makamnya. Mudik lebaran menjadi sesutau yang selalu kita tunggu. Kita sekuat tenaga mencebur dalam rutinitas yang mengasyikkan. Kendati rutin, kita selalu memiliki kenangan baru di setiap tahunnya.

Tentu hari-hari ini, tradisi mudik yang mengiringi Idul Fitri bisa saja beraroma lain. Sebagian memang dilandasi oleh suatu kerinduan murni terhadap daerah tempat dilahirkan dan dibesarkan. Kekhidmatan bermesraan kembali dengan kampung halaman bisa berbagai kesulitan dan hiruk-pikuk dalam dada.

Pada sebagian lagi, motivasinya rasa-rasanya kok tercampur arogansi duniawi. Betul mereka ingin bersilaturahmi serta berkumpul bersama saudara dan handai taulan, namun sekaligus juga berhasrat menunjukkan keberhasilan hidup di kota. Sadar atau tidak, hal ini banyak terjadi.

Ya. Pesta Raya Bersama bisa jadi kehilangan makna sejatinya. Pesta ritual tahunan tersebut menjadi sangat konsumtif sehingga makna sosial Idul Fitri terus tereduksi. Pendeknya semangat Idul Fitri menjadi kabur dan kita terjebak pada kepongahan kapitalisme.

Padahal, kesederhanaan dan keimanan tulus yang seharusnya menjadi makna utama kita dalam memasuki hari Fitri itu. Memang susah untuk tampil sederhana, tapi mudah-mudahan kita tidak bermaksud riya dan sombong ketika kita datang ke kampung halaman nun jauh di sana…

Selamat berlebaran. Teriring doa: “Ya Allah, siramilah kami dengan Kedamaian-Mu…”

[yadi sastro untuk Hanindo News yang diterbitkan khusus menyambut lebaran]


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.