Selamat datang di padhepokan ini. Mungkin Anda akan kecewa. Saya mohon maaf sebelumnya. Sebagai padhepokan, di sini ia tidak menjanjikan udara yang sejuk semilir. Di sini juga tidak tersedia berbagai kitab-kitab sakti. Tak ada pula stok jurus-jurus rahasia maha dahsyat. Apalagi mantra-mantra yang nggegirisi.
Padhepokan Talijiwo lebih dekat kepada polowijo, wedang jahe, tahu bacem, bothok mlandhing, jangan terong, lintingan sembukan dan sahabat-sahabatnya. Sesekali mungkin sambel cabuk. Andai saja ada garang asem itu pasti jarang sekali.
Ngelmu di padhepokan ini muncul dari orang-orang pinggiran yang diramu sekadarnya.
Wejangan dari wong ndeso semacam Mbok Semi Nguter tak ternilai harganya. Menerima wejangan sambil wedangan di rumah berdinding gedhek itu sungguh sangat berkesan.
Ingatan saya selalu melayang ke Nguter, Sukoharjo, Jawa Tengah, nun jauh di sana.
Dari Nguter turun ke hati. Barangkali itulah yang tepat untuk dikatakan. Padhepokan ini hanya sebuah cara mengenang. Merekam ulang wejangan, wedangan, dan meditasi atau kelakar bersama orang-orang baik yang tak tercatat sejarah.
Sekali lagi tak ada yang istimewa di Padhepokan Talijiwo ini. Tapi saya percaya, kesederhanaan dan keterbatasan dapat kita jadikan guru. Saya selalu ingat Mbok Semi. Wejangannya, teh tubruknya, segala keterbatasannya dan rumah gedheknya. Juga pohon mangga talijiwo di belakang rumah itu. Sungguh, buahnya terasa sangat manis.
Di usianya yang telah senja, Mbok Semi mengejutkan saya. Ia kini merasa sangat bahagia, karena secara otodidak ia berhasil mengatasi keterbatasannya. Dari buta huruf Arab, menjadi lancar membaca.
Sebagai ungkapan rasa syukur, ia selalu membaca kitab-Nya setiap malam. Ketika listrik rumahnya sempat mati beberapa hari, ia masih tetap melantunkan ayat-ayat suci meski hanya ditemani temaram lampu senthir.
Duh Gusti, tanamkan kepada kami keberanian belajar seperti halnya Mbok Semi.
Apik lan mantep tenan.
Wong jowo kuwi yen duwe falsafah urip memange perlu di urip – urip lan tansah digenggem sing kenceng, ben bisa kaleksanan opo sing digayuh .
Mas yadi aku melu falsafah sampeyan sing metani urip kang sederhono lan andap ati.
Tapi piye carene falsafah sing apik kuwi biso dadi tombo ati, bukan hanya cuma di bibir alias diluar saja?
Oleh: Sutiyono on 19 November 2008
at 10:22 am